Showing posts with label Kenapa. Show all posts
Showing posts with label Kenapa. Show all posts

Wednesday, September 2, 2009

Adab Pergaulan di Dunia Maya

Kisah Bincang-bincang Seorang Istri di Dunia Maya (Sumber: Jilbab.or.id)
sumber artikel: disini

Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’I … Ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah di sini (Sydney) agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…

Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon. Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.

Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah, … hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.

Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, … sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet. Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, … ia merahasiakan dengan siapa ia chatting .. khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi…. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.

Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, .. ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.

Duhai fitnah asmara semakin membara, … ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, .. ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, .. ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa. Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.

Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar, lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.
Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu.

Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya. Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???
Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, … dengan tegasnya si lelaki itu berkata, “Tidak!! Aku tidak mau menikahimu! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!”
Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, .. sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya…. Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu … mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.
[Berakhir nukilan dari http://jilbab.or.id/archives/403-bercerai-dari-suami-akibat-kecanduan-chatting/ ]

Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul. Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.
Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.
Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala
mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Sehingga Allah mengetahui segala apa yang mereka lakukan. Karena Allah-lah Maha Mengetahui dan Maha Melihat dengan sifat kesempurnaan. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.

Selain itu pula, istri mesti diluruskan tatkala dia berada dalam kekeliruan. Istri mesti diluruskan dengan lemah lembut dan harus berhati-hati dalam menasehatinya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

"Bersikaplah yang baik terhadap wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk.Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka dia akan patah. Namun, jika kamu membiarkan wanita, ia akan selalu bengkok, maka bersikaplah yang baik terhadap wanita." (HR. Bukhari no. 5184)
Juga perlu diketahui bahwa kerusakan yang terjadi akibat chatting di atas bukanlah bisa terjadi hanya pada wanita. Kerusakan semacam itu pun sebenarnya dapat terjadi pada laki-laki. Oleh karena itu, perlu sekali diberitahukan kepada pembaca sekalian beberapa adab-adab yang mesti diperhatikan ketika bergaul dengan lawan jenis. Karena tidak memperhatikan beberapa adab berikut inilah terjadi keretakan rumah tangga atau mungkin bagi yang belum menikah pun bisa terjadi kerusakan dengan terjerumus dalam perantara-perantara menuju zina atau bahkan bisa terjerumus dalam zina. Na’udzu billahi min dzalik.


Beberapa Adab yang Mesti Diperhatikan dalam Pergaulan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)
Pertama, menjauhi segala sarana menuju zina
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)
Kedua, selalu menutup aurat
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59)
Ketiga, saling menundukkan pandangan
Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24] : 30 )
Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24] : 31)
Keempat, tidak berdua-duaan dengan lawan jenis
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)
Kelima, menghindari bersentuhan dengan lawan jenis
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
Keenam, tidak melembutkan suara di hadapan lawan jenis
Allah Ta’ala berfirman,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu melembutkan pembicaraan sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (syahwat) dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32). Perintah ini berlaku bukan hanya untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun juga berlaku untuk wanita muslimah lainnya.


Lalu bagaimana dengan adab chatting dengan lawan jenis? Hal ini dapat pula kita samakan dengan telepon, SMS, pertemanan di friendster dan pertemanan di facebook

Jawabnya adalah sama atau hampir sama dengan adab-adab di atas.
Pertama, jauhilah segala sarana menuju zina melalui pandangan, sentuhan dan berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom.
Kedua, tutuplah aurat di hadapan bukan mahrom.
Sehingga seorang muslimah tidak menampakkan perhiasan yang sebenarnya hanya boleh ditampakkan di hadapan suami. Contoh yang tidak beradab seperti ini adalah berbusana tanpa jilbab atau bahkan dengan busana yang hakekatnya telanjang. Inilah yang banyak kita saksikan di beberapa foto profil di FB atau friendster. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka.
Ketiga, tundukkanlah pandangan.
Bagaimana mungkin bisa saling menundukkan pandangan jika masing-masing orang memajang foto di hadapan lawan jenisnya? Wanita memamerkan fotonya di hadapan pria. Mungkinkah di sini bisa saling menundukkan pandangan? Oleh karena itu, alangkah baiknya jika foto profil kita bukanlah foto kita, namun dengan foto yang lain yang bukan gambar makhluk bernyawa. Tujuannya adalah agar foto wanita tidak membuat fitnah (godaan) bagi laki-laki, begitu pula sebaliknya. Di antara bentuk menundukkan pandangan adalah janganlah menggunakan webcamp selain dengan sesama jenis saja ketika ingin melakukan obrolan di dunia maya.
Keempat, hati-hatilah dengan berdua-duaan bersama lawan jenis yang bukan mahrom.
Jika seorang pria dan wanita melakukan pembicaraan via chatting, telepon atau sms –tanpa ada hajat (keperluan)-, itu sebenarnya adalah semi kholwat (semi berdua-duaan). Apalagi jika di dalamnya disertai dengan kata-kata mesra dan penuh godaan sehingga membangkitkan nafsu birahi. Dan jika memang ada pembicaraan yang dirasa perlu antara pria dan wanita yang bukan mahrom, maka itu hanya seperlunya saja dan sesuai kebutuhan. Jika tidak ada kebutuhan lagi, maka pembicaraan tersebut seharusnya dijauhi agar tidak terjadi sesuatu yang bisa menjurus pada yang haram.
Kelima, janganlah melembutkan atau mendayu-dayukan suara atau kata-kata di hadapan lawan jenis.
Penyimpangan dalam adab terakhir ini, kalau diterapkan dalam obrolan chatting adalah dengan kata-kata yang lembut atau mendayu-dayu dari wanita yang menimbulkan godaan pada pria. Contoh menggunakan kata-kata yang sebenarnya layak untuk suami istri seperti “sayang”, dsb.
Jika setiap muslim mengindahkan adab-adab di atas, maka tentu saja dia tidak akan terjerumus dalam perbuatan dosa dan tidak akan mengalami hal yang serupa dengan kisah di atas dengan izin Allah.

Kami ingatkan pula bahwa tulisan ini bukanlah hanya kami tujukan kepada kaum hawa saja, namun kami juga tujukan pada para pria agar mereka juga memperhatikan adab-adab di atas. Jadi janganlah tulisan ini dijadikan sebagai sarana untuk memojokkan wanita atau para istri, namun hendaklah dijadikan nasehat untuk bersama.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan sifat ketakwaan, memberi kita petunjuk dan kecukupan. Semoga Allah melindungi dan menjaga keluarga kita dari hal-hal yang haram dan mendatangkan murka Allah. Semoga risalah ini dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Wa shallallahu wa sallamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Walhamdulillahir rabbil ‘alamin.

***
Panggang, Gunung Kidul, 10 Sya’ban 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com

Musibah Datang karena Maksiat dan Dosa


“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

‘Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Perkataan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu- di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Para ulama salaf pun mengatakan yang serupa dengan perkataan di atas.

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan,
“Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Ibnu Rojab Al Hambali –rahimahullah- mengatakan,
“Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latho’if Ma’arif, hal. 75)

Saatnya Merubah Diri

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa. Juga kaum muslimin tidak bisa lepas dari tradisi yang membudaya yang berbau agama, namun sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masih banyak yang enggan meninggalkan tradisi perayaan kematian pada hari ke-7, 40, dst. Juga masih gemar dengan shalawatan yang berbau syirik semacam shalawat nariyah. Juga begitu banyak kaum muslimin gemar melakukan dosa besar. Kita dapat melihat bahwa masih banyak di sekitar kita yang shalatnya bolog-bolong. Padahal para ulama telah sepakat –sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim- bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar yang lainnya yaitu lebih besar dari dosa berzina, berjudi dan minum minuman keras. Na’udzu billah min dzalik. Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir-akhir zaman ini. Itulah berbagai dosa dan maksiat yang seringkali diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tidak kunjung hilang.

Agar berbagai nikmat tidak lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang, hendaklah setiap hamba memperbanyak taubat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karena dengan beralih kepada ketaatan dan amal sholeh, musibah tersebut akan hilang dan berbagai nikmat pun akan datang menghampiri.
Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni'mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfaal: 53)

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ro’du: 11)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmus sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan:

Al Jawabul Kaafi Liman Sa-ala ‘anid Dawaa’ Asy Syafii, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah,cetakan kedua: 1427 H

Kaifa Nakuunu Minasy Syakirin, ‘Abdullah bin Sholeh Al Fauzan, Asy Syamilah

***
Disusun di saat Allah memberi nikmat dan kemudahan untuk menulis selepas shalat shubuh, 14 Jumadil Ula 1430 H
Di rumah mertua tercinta, Panggang, Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

Wednesday, August 26, 2009

19 Tanda Kegagalan Ramadhan

Sumber: Hidayatulloh

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya'ban.

Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya'ban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu 'anha berkata, "Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Sya'ban."

2. Gampang mengulur shalat fardhu.

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih." (Maryam: 59) Menurut Sa'id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.


3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail.
Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih. "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (Al-Anbiya:90) "Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya. " (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya. Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Qur'an.

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur'an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur'an. "Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur'an." (HR Baihaqi)
Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.

6. Mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: "Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah." Dalam hadits lain beliau bersabda: "Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.

"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan sia-sia, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: "Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia." (Al Muhalla VI: 178) Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: "Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan."

8. Memutuskan tali silaturrahim.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: "…Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya…"
Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.

Al-Qur'an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main. "Allah bertanya: 'Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman: 'Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. "Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai 'Arsy yang mulia." (Al-Mu'minun: 112-116)
Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

10. Labil dalam menjalani hidup.

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw: "Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya." (HR Ahmad, Nasa'i, Baihaqi dari Abu Hurairah)
Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan 'amar ma'ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

12. Khianat terhadap amanah.

Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjama'ah.

Frekuensi shalat berjama'ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama'ah, yang saling menguatkan. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaf: 4) Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama'ah.

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.

Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.

Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.

Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.
"Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hasyr: 18)

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.

Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelah Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati. Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Secara harfiah makna Idul Fitri berarti "hari kembali ke fitrah". Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari "penjara" Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional. Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.

Tuesday, May 12, 2009

ketik : REG(spasi)HARTA kirim ke N.E.R.A.K.A

dikirim: Wahyu Hamzah
pada grup: Ayo Baca Al-Qur'an

Celakalah kedua belah tangan Abu Lahab dan celakalah dia. Harta bendanya dan apa yang dia usahakan, tidak berguna bagi dirinya. Dia akan masuk api yang menyala-nyala. (QS AL-LAHAB : 1-3)

Tahukah kamu orang yang mendustakan hari Pembalasan. Itulah orang yang menolak hak anak yatim. Dan tidak menganjurkan member makan terhadap orang-orang miskin. (QS AL-MA’UN : 1-3)

Kecelakaanlah bagi setiap orang yang mengumpat dan mengejek. Yaitu orang yang mengumpulkan hartanya dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Jangan demikian, sungguh ia akan dicampakkan dalam Huthamah (neraka). (QS AL-HUMAZAH : 1-4)

Kamu telah dilalaikan oleh kemewahan. Hingga kamu masuk ke liang kubur. Janganlah begitu, nanti kamu akan mengetahui. (QS AT-TAKASUR : 1-3)

Sesungguhnya manusia itu sangat tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya ia menyaksikan hal itu. Dan sesungguhnya ia sangat cinta pada harta. (QS AL-‘ADIYAT : 6-8)

Jangan demikian (wahai orang yang ingkar) sesungguhnya manusia itu sungguh melampaui batas. Karena ia melihat dirinya kaya. Sesungguhnya kembali(mu) itu kepada Tuhanmu. (QS AL-‘ALAQ : 6-8)

Dan adapun orang yang kikir dan memandang dirinya kaya. Dan mendustakan terhadap kebaikan. Maka segera Kami permudah dia pada kesukaran. (QS AL-LAIL : 8-11)

Adapun manusia apabila dia diuji Tuhannya dan dimuliakan-Nya serta dia dikaruniai kenikmatan oleh-Nya, maka dia berkata : “Tuhanku memuliakanku”. Adapun apabila dia diuji oleh-Nya dan disempitkan-Nya rezekinya, maka dia berkata : “Tuhanku menghinakanku”. Janganlah demikian, bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim. Dan kamu tidak menganjurkan untuk member makan kepada orang miskin. Dan kamu memakan harta pusaka secara campur baur. Dan kamu mencintai harta dengan cinta yang berlebihan. (QS AL-FAJR : 15-20)

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain minta disempurnakan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka merugikan (mengurangi). (QS AL-MUTAFFIFIN : 1-3)

Sesungguhnya neraka Jahanam adalah tempat penantian (orang-orang kafir). Lagi (pula) menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang durhaka. Mereka tinggal di dalamnya dalam waktu yang lama. Di dalamnya mereka tidak merasakan kesejukan dan tidak ada minuman. Kecuali air panas dan nanah. (QS AN-NABA’ : 21-25)

Sunday, December 7, 2008

Bulan Pernah Terbelah?

Artikel Bebas
Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq
02 Januari 2007 - 01:23
Sumber: Dudung.net

Benarkah peristiwa menakjubkan 14 abad yabg lalu saat Rasulullah dengan izin Allah membelah bulan?. Apapun yang datang dari Allah dan Rasulnya masuk akal atau tidak maka tiada pilihan untuk menolaknya. Karena sebuah penolakan adalah sbuah jawaban sedekat apa Iman kita pada kebenaran itu?. Untaian Risalah berikut smoga bisa menambah keyakinan kita akan sebuah kebenaran,... kebenaran yang mutlak dari-Nya.

Allah berfirman: "Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)" Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur'an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ??Di bawah ini adalah kisahnya:
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut:
Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur'an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, "Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya.

Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta'alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?" Rasulullah bertanya, "Apa yang kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belah bulan, .."

Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, "Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!" Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?"Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dansaling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali...!!!"

Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:

Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, "Ini adalah sihir yang terus-menerus", dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ....sampai akhir surat Al-Qamar.

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, "Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??"

Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati."
Daud Musa Pitkhok berkata, "Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur'an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur'an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah...

Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS.

Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, " Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna". Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, "Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget danberkata, "Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?" Mereka pun menjawab, "Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, "Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab,

"Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!! Presenter pun bertanya, "Bagaimana kalian bisa yakin akanhal itu?" Mereka menjawab, "Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, "Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali".

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, "Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, "Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah ... Maka aku pun berguman, "Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur'an dan aku baca surat Al-Qamar, dan ... saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Thursday, December 4, 2008

Setiap yang berjiwa pasti mati

penulis: firliana putri
sumber: daarut-tauhiid

Allah menegaskan dalam banyak ayatNya, bahwa yang berjiwa pasti akan mengalami kematian. Bukan hanya manusia, melainkan juga tumbuhan, dan binatang. Hal itu di antaranya dikemukakan Allah pada ayat-ayat berikut ini.

QS. Al Anbiyaa (21) : 35
Tiap-tiap yang berJiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

QS. Al Ankabuut (29) 57
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

Allah menciptakan kehidupan ini memang silih berganti antar satu kejadian dengan kejadian yang lain. Dulu mati kemudian dihidupkan. Yang sebelumnya hidup kemudian dimatikan.

Dia juga mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan sebaliknya mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Begitulah Allah menunjukkan KekuasaanNya. Dan, akhirnya, semua itu kembali kepadaNya belaka.

QS. Ali Imran (3) : 27
Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).

QS Adz Dzaariyat (51) : 49
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.

Pada kenyataannya, kita memang melihat di sekitar bahwa segala yang hidup mengalami kematiannya. Pada sisi yang berbeda, kita juga memperoleh pemahaman bahwa binatang dan tumbuhan ternyata juga memiliki Jiwa. Tapi, dalam skala yang lebih rendah.

Dalam diskusi tentang otak secara struktural, diketahui bahwa otak manusia memiliki struktur otak binatang, khususnya jenis reptil. Inilah yang disebut sebagai otak tua : palaeoenchepalon. Bagian otak ini memiliki mekanisme kerja yang tidak melibatkan fungsi rasional. Ia lebih banyak melibatkan amygdala (otak emosional) dan tidak punya hippocampus (otak rasional). Ia juga cenderung bereaksi secara fisik untuk merespon kejadian di luar dirinya.

Pada seorang laki-laki 'otak reptilianya' lebih berkembang dibandingkan dengan perempuan. Karena itu, seorang laki-laki cenderung menggunakan reaksi fisik (memukul, merusak dan semacamnya) ketika sedang mengamuk atau marah. Berbeda dengan perempuan yang justru menjadi rasional, dan menahan diri ketika sedang marah.

Jadi, binatang juga memiliki Jiwa. Tapi dalam skala yang lebih rendah, karena tidak memiliki otak rasional yang disebut sebagai kulit otak alias cortex cerebri. Apalagi pada tumbuhan, ia tidak memiliki otak. Kualitas Jiwanya adalah paling rendah.

Namun, semua itu bakal mengalami kematian, sebagaimana difirmankan oleh Allah. Tidak pandang bulu, apakah kualitas jiwanya tinggi atau rendah. Asalkan ia makhluk hidup, maka dia bakal mati.

Bahkan, meskipun tidak ada informasi yang cukup transparan, ada yang berpendapat bahwa jin dan malaikat juga mengalami kematian. Hanya, umumya jauh lebih panjang dari manusia, karena faktor bahan dasar penyusun tubuhnya yang berkualitas lebih tinggi.

Itu didasarkan pada pemikiran bahwa setiap yang hidup bakal mengalami kematian, kecuali Allah SWT. Jin dan malaikat adalah termasuk makhluk hidup. Karena itu juga bakal mengalami kematian.

Sebagian jin khususnya iblis diberi tenggat waktu untuk tidak mati sampai hari 'kiamat pertama' (kiamat sughra) oleh Allah. Sedangkan malaikat, tidak mengalami kematiannya sampai 'kiamat yang kedua' (kiamat kubra).

QS. Al A'raaf (7) : 14 - 15
Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan" Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."

QS. Al Kahfi (18) : 50
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.

Ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa khusus Iblis, diberi waktu oleh Allah untuk menggoda manusia sampai Kiamat. Dan adalah Iblis itu dari golongan jin. Namun demikian, tidak semua Jin memiliki usia sepanjang itu. Selebihnya jin juga mengalami proses menua, sakit, dan mati.

Secara umum, dari pengalaman orang-orang yang berinteraksi dengan dunia jin, mengatakan bahwa usia jin berkisar 10 kali lipat usia di dunia manusia. Jadi kalau manusia berumur 60 tahun, maka jin bisa berumur 600 tahun, dalam ukuran dunia manusia. Itu dimungkinkan, karena badan jin terbuat dari bahan gelombang panas, sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.

QS. Al A'raaf (7) : 12
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".

QS. Al Hijr (15) : 27
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.

Sedangkan malaikat, memiliki usia yang lebih panjang lagi karena badannya terbuat dari cahaya : Kenapa bisa lebih panjang? Sebab, cahaya memiliki kecepatan yang menyebabkan 'waktu malaikat' mulur sesuai dengan teori relativitas waktu.

Namun, meskipun terbuat dari cahaya, badan malaikat tidak persis berkecepatan cahaya. Sebab, jika ia memiliki kecepatan persis cahaya, maka malaikat menjadi tidak terikat waktu sama sekali, sesuai teori tersebut, Tm = [To/ akar ( l-v2/C2)]. Jika v sebagai kecepatan malaikat persis dengan c, maka waktu malaikat menjadi tidak berhingga, karena To dibagi dengan nol.

Sementara itu, kalau kita baca firman Allah berikut ini, kita bakal tahu bahwa malaikat masih terikat waktu. Yaitu, 1 hari malaikat sama dengan 50.000 tahun manusia. Malaikat bisa mencapai waktu tersebut ketika melesat dengan kecepatan hampir mendekati cahaya.

QS. Al Ma'arij (70) : 4
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Dengan kata lain, usia malaikat bukanlah tidak berhingga. Mereka masih terikat waktu, tetapi waktunya bisa mulur, memanjang sampai 1 : 50.000 tahun ukuran manusia.

Berarti, usia bumi yang sudah 5 miliar tahun bagi manusia ini, dalam hitungan malaikat cuma berumur 100.000 hari alias sekitar 274 tahun malaikat. Atau, alam semesta yang telah berumur 12 miliar tahun itu pun barulah sekitar 240.000 hari alias sekitar 657 tahun malaikat.

Maka, pada hari kiamat nanti para makhluk Allah ada yang mati dan ada yang tetap hidup. Termasuk para malaikat dan iblis. Mereka yang dikehendaki Allah untuk mati, bakal dimatikan olehNya. Tetapi yang dikehendaki hidup, bakal tetap hidup.

QS. An Najm (53) : 26
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa'at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).

QS. Az Zumar (39) : 68
Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu.

Sedangkan manusia, dengan umurnya yang sangat pendek puluhan tahun saja sebagian besarnya sudah mati sebelum kiamat. Tetapi sebagian yang lain bakal mengalami hari kiamat yang mengerikan itu. Bagaimanakah kematian seorang manusia terjadi? Dan bagaimana kaitannya dengan Ruh dan Jiwa? Marilah kita bahas berikut ini.

2. SAAT BERPISAHNYA BADAN DAN JIWA

Kematian adalah misteri kedua, yang terkait dengan Jiwa dan Ruh. Misteri yang pertama adalah kehidupan itu sendiri. Pertanyaan. tentang 'Bagaimana terjadinya kematian' tidak kalah misteriusnya dengan pertanyaan tentang: 'bagaimana terjadinya kehidupan'.

Ya, munculnya kematian dan kehidupan adalah misteri yang tiada pernah berakhir diperbincangkan oleh manusia sepanjang sejarah kehidupan itu sendiri. Munculnya kehidupan masih menjadi teka-teki yang belum terjawab dengan memuaskan. Apalagi periode sebelum munculnya kehidupan. Tapi, insya Allah, saya akan membahasnya dalam diskusi terpisah tentang munculnya kehidupan di alam semesta.

Sedangkan yang terkait dengan kematian akan kita bahas dalam diskusi kali ini. Di antaranya saat-saat kematian, periode sesudah kematian, dan kondisi Jiwa serta Ruh terkait dengan kematian tersebut.

Bagaimanakah sebenarnya proses kematian terjadi pada manusia? Kita bisa meninjaunya dari dua sisi yang berbeda. Yang pertama adalah sisi medis, dan yang kedua dari sisi agama.

Saya kira secara medis kita bisa dengan mudah mendefinisikan yang disebut dengan kematian. Jika seseorang sudah tidak bernafas, denyut jantung berhenti, dan otak sudah tidak beraktivitas lagi, maka dikatakan orang tersebut telah mengalami kematian.
Sebab, jika nafas dan jantung sudah tidak berfungsi, seluruh sel dalam tubuh kita juga akan mengalami kematiannya. Pasokan oksigen dan zat-zat gizi semuanya bakal berhenti dan tidak lagi menghidupi sel. Maka, tidak lama kemudian, miliaran sel di tubuh kita akan mengalami kehancuran secara dramatis dan kemudian membusuk. Itulah akhir dari sebuah kematian.

Dalam metode yang berbeda, saat-saat kematian diketahui dengan cara mendeteksi aktivitas otak seseorang. Cara ini lebih akurat dibandingkan dengan mengukur denyut jantung dan nafas.

Bisa jadi denyut jantung dan nafas seseorang sudah berhenti, tapi pada saat itu aktivitas otaknya belum mati. Maka, orang yang mengalami kondisi demikian itu sebenarnya masih bisa ditolong agar tidak mati. Misalnya dengan cara mengaktifkan kembali denyut jantungnya lewat kejutan listrik.

Demikian pula jika nafasnya terhenti. Boleh jadi itu hanya karena tersumbatnya saluran nafas oleh suatu benda. Maka orang yang nafasnya terhenti karena hal demikian, masih bisa ditolong dengan cara tertentu, termasuk bantuan nafas buatan.

Namun jika yang berhenti beraktivitas secara keseluruhan adalah otaknya, dipastikan orang tersebut telah meninggal dunia. Karena otak adalah pengendali dari berbagai aktivitas organ-organ tubuh lainnya.

Secara umum aktivitas otak ini dibagi menjadi dua wilayah besar, yaitu aktivitas otak besar dan aktivitas batang otak. Jika yang 'berhenti' beraktivitas adalah otak besar, tapi batang otaknya masih bekerja, maka orang tersebut dikatakan mati suri alias koma.

Otak besar dibantu otak kecil berfungsi untuk mengkoordinasi-kan seluruh aktivitas tubuh. Mulai dari berkehendak sampai pada respon gerakan. Sedangkan batang otak lebih mengatur pada fungsi dasar kehidupan seperti bernafas dan denyut jantung.

Sehingga, meskipun kesadaran dan respon motoriknya sudah sangat rendah, kalau batang otak seseorang masih berfungsi, orang itu masih bisa bernafas dan memiliki denyut jantung. Sebab, kontrol terhadap fungsi nafas dan jantung memang berada di batang otak tersebut.

Jadi, kematian seseorang dari sisi medis atau organik adalah ketika batang otaknya sudah tidak berfungsi lagi. Saat itulah perintah untuk menjalankan nafas dan jantung sudah tidak keluar dari batang otaknya.

Padahal kita tahu, bahwa nafas dan jantung adalah organ yang berfungsi mendistribusikan oksigen dan zat gizi ke seluruh tubuh agar miliaran sel bisa hidup dan berfungsi dengan baik.

Maka, kalau kita telusuri proses kematian seseorang secara medis, kurang lebih demikian:
1. Dicabutnya perintah kehidupan dari batang otak, berupa dihentikannya denyut jantung, gerakan paru-paru, dan perintah hilangnya kesadaran di daerah yang dinamakan formasi retikularis. Daerah ini memiliki inti-inti sel yang tersebar di batang otak dan bisa mengeluarkan perintah yang mengatur kondisi sadar manusia.
2. Akibat berhentinya denyut jantung dan paru-paru, maka pasokan 'gizi kehidupan' berupa oksigen dan nutrisi pun berhenti. Maka dalam waktu beberapa menit kemudian sel-sel tubuh bakal mengalami kerusakan secara massal.
3. Kerusakan itu termasuk meliputi sel-sel otak. Mulai dari kulit otak sampai mengarah ke batang otak dan seluruh sel-sel sarafnya. Saat itulah formasi retikularis mencabut perintah kesadaran seseorang.
4. Ketika kesadaran seseorang sudah terhenti diiringi dengan kerusakan miliaran sel di seluruh tubuhnya, maka seseorang dikatakan telah meninggal dunia.

Tapi, mekanisme kematian seperti di atas adalah mekanisme normal. Banyak variasi mekanisme munculnya kematian itu. Yang intinya, adalah berhentinya fungsi jantung, nafas dan hilangnya kesadaran, yang kemudian diikuti oleh rusaknya sel-sel tubuh secara massal.

Ada yang rusak dari jantungnya terlebih dahulu, misalnya pada orang-orang yang terkena serangan jantung koroner. Ketika jantung tersumbat atau jantung mengalami kegagalan berdenyut, tubuh juga kehilangan pasokan nutrisi dan oksigen. Dan kemudian seseorang akan mengalami kematiannya.

Atau bisa juga berasal dari kegagalan pernafasan sehingga menyebabkan kekurangan oksigen. Misalnya pada orang yang tercekik atau tersumbat saluran nafasnya. Maka, sel-sel bakal kekurangan oksigen, dan lantas mengalami kerusakan pada sel-sel otaknya, hilang kesadaran, dan kemudian mengalami kematian.

Atau, ada juga yang berawal dari kerusakan organ-organ lain seperti liver, ginjal, pencernaan, pembuluh darah, dan sebagainya, yang pada gilirannya akan mengganggu distribusi nutrisi dan oksigen ke otak dan sel-sel tubuh lainnya.

Ujung-ujungnya, otak 'berkesimpulan' bahwa koordinasi organ-organ untuk mempertahankan kehidupan sudah tidak berjalan lagi. Maka, batang otak akan mengeluarkan perintah untuk menghentikan fungsi jantung, paru dan kesadaran seseorang. Itulah saat-saat kematian terjadi.

Setelah itu badan bakal membusuk dan hancur secara perlahan-lahan. Jiwa pun 'terlepas' dari badan seiring dengan kerusakan yang terjadi padanya. Jiwa adalah sisi energial dari badan yang bersifat material.

Sebagaimana pernah kita bahas dalam diskusi-diskusi sebelumnya, bahwa materi dan energi adalah 'eksistensi' yang selalu berimpit keberadaannya. Dimana ada materi, di situ pasti ada energi.

Kemunculan materi dan energi itu bagaikan timbangan. Jika materinya dominan, maka energinya tersimpan sebagai potensi. Sebaliknya, jika energinya yang dominan, maka materinya juga melemah tersimpan sebagai potensi.

Demikianlah pada badan manusia. Ketika dilahirkan, ia menyimpan potensi energinya di dalam badan wadagnya, dalam sebuah keseimbangan struktur yang demiklan sempurna.

Materi adalah badan, energi adalah Jiwa. Tapi uniknya, energi yang tersimpan sebagai Jiwa itu bukan terdapat pada benda mati, melainkan tersimpan di dalam struktur tubuh manusia yang hidup. Mulai dari susunan terkecilnya secara biomolekuler, menjadi sel, menjadi organ, dan akhirnya tubuh manusia. Maka struktur material yang hidup Ini juga menghasilkan struktur energi yang hidup juga, yaitu Jiwa.

Sehingga ketika badan hidup Itu mengalami kerusakannya, maka energi yang terlepas darinya juga bukan energi yang mati, melainkan energi yang hidup.

Sudah pernah kita bahas dalam diskusi-diskusi sebelumnya, bahwa energi akan terlepas jika material mengalami kerusakan. Kalau kita merusak kayu dengan cara membakarnya, maka dari kayu itu akan terlepas energi panas. Jumlah materinya berkurang, tapi eksistensi energinya bertambah.

Demikian pula kalau kita merusak bahan-bahan peledak dengan dengan cara mereaksikannya secara kimiawi, maka bahan peledak itu akan rusak dan musnah, tapi muncul energi ledakan yang dahsyat.

Atau pada energi nuklir. Kalau kita merusak inti atom lewat reaksi berantai dengan menggunakan neutron, maka inti-inti atom Uranium atau plutonium bakal mengalami kerusakan, dan melepaskan energi yang luar biasa besar.

Jadi intinya, agar energi keluar dari 'seonggok' materi, kita harus merusak materi itu sedemikian rupa sehingga terlepaslah energi karakteristiknya. Pada benda mati, energi yang keluar adalah 'energi yang mati'. Tapi pada benda hidup energi yang keluar adalah energi yang hidup' juga. Itulah Jiwa.

Pada manusia, jiwa akan keluar dari badannya ketika badan itu mengalami kerusakan. Dalam konteks ini adalah kerusakan menyeluruh yang disebut dengan kematian. Tapi, energinya bakal keluar sebagai energi yang hidup.

Kenapa bisa demikian? Karena energi kehidupan itu sebenarnya bukan datang dari Jiwa itu sendiri melainkan datang dari Ruh yang masih bersemayam di dalam Jiwa. Ketika Jiwa masih bersatu dengan badan, kehidupan muncul pada kedua-duanya, berasal dari energi kehidupan Ruh. Hidup badannya, hidup Jiwanya.

Tapi begitu badannya rusak, maka yang hidup tinggal Jiwanya saja. Dalam bentuk apa? Dalam bentuk energi yang terlepas dari badan.

Badan dan Jiwa adalah materi dan energi. Badan memiliki struktur yang khas dari materi, sedangkan Jiwa juga memiliki struktur yang khas dari energi. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang yang sama. Tidak bisa dipisahkan. Kalau terpisah, maka ia bukan lagi berfungsi sebagai mata uang.

Demikian pula dengan manusia. Ia bisa disebut sebagai manusia adalah ketika badan yang hidup bertemu dengan Jiwa yang hidup. Ketika badannya mati, maka ia tidak lagi disebut sebagai manusia melainkan sebagai mayat alias jenasah. Dan sisi lainnya disebut nyawa. Atau ada yang menyebutnya sebagai roh (memiliki konotasi yang agak berbeda dengan Ruh).

Perumpamaan lain tentang badan dan Jiwa itu bisa digambarkan sebagai badan seseorang dengan bayangannya dalam cermin. Meskipun ini tidak persis. Saya hanya ingin menggambarkan bahwa apa yang terdapat pada badan kita, juga terdapat pada Jiwa.

Struktur badan, juga terstruktur pada Jiwa. Demikian pula seluruh sifat dan karakter yang terdapat pada badan, pun terdapat pada jiwa. Jiwa bagaikan bayangan cermin dari badan kita sendiri, dalam bentuk energi.

Seluruh pengalaman hidup kita tersimpan dalam struktur tubuh kita secara material, tapi juga sekaligus tersimpan dalam struktur Jiwa secara energial.

Jadi meskipun badan sudah rusak karena kematian, segala amal dan perbuatan seseorang masih tersimpan dalam bentuk energial di dalam struktur Jiwanya. jiwa masih tetap hidup sesuai dengan alamnya. Itulah yang dikatakan Allah dalam firman berikut ini.

QS. Al Imran (3) : 169
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.

QS. Al Baqarah (2) 154
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

Allah menepis keraguan banyak kalangan, bahwa mereka yang sudah meninggal dunia itu tidaklah mati, melainkan masih hidup dalam alam yang berbeda. Bahkan mereka memperoleh rezeki dari Allah agar tetap bisa mempertahankan kehidupannya itu.

Akan tetapi dunia mereka memang berbeda dengan kita, sehingga kebanyakan kita tidak menyadarinya. Kalau pun ada yang bisa menyadarinya, kata Allah hanya samar-samar saja. Hal itu Dia jelaskan dalam ayat berikut.

QS. Maryam (19) : 98
Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorangpun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?

Bagaikan badan dengan bayangan dalam cermin, kalau kita tidak memandang secara khusus ke arah cermin, maka kita juga tidak menyadari bahwa di dalam cermin itu ada bayangan kita.

Badan dan bayangan dalam cermin eksis dalam dunia yang berbeda. ‘Badan’ kita terasa riil di dunia nyata, sedangkan 'bayangan' pun bersifat riil di dalam ‘dunia cermin’. Demikian pula badan dan Jiwa. Badan kita riil berada di Dunia Materi, tapi Jiwa kita juga riil, hidup di Dunia Energi. Bedanya, badan bersifat kuantitas, sedangkan Jiwa bersifat kualitas.

Keduanya dibatasi oleh cermin. Cermin itulah yang menjadikan adanya eksistensi yang identik antara badan dan bayangan, satunya kuantitas dan lainnya kualitas. Cermin bagaikan angka nol. Angka nol dalam deret bilangan menjadi 'cermin' atas deretan angka positif dan negatif.

Keberadaan angka-angka itu justru muncul dari angka nol. Karena ada angka nol, maka ada angka 1 dan -1, atau 2 dan -2, dan seterusnya sampai tak berhingga.

Keberadaan angka nol justru memberikan makna pada bilangan bilangan yang lain. Padahal kita semua tahu, arti dari angka nol itu adalah 'kosong' alias ‘tidak ada isinya’.

Tapi, munculnya angka 1 justru dimulai dari 'kosong' itu. Jika tidak ada nol, maka angka 1 itu pun tidak bermakna. Sebab ‘ada’ hanya bisa kita persepsi dengan baik jika kita tahu yang Tidak ada. Angka 10, 100, 1000, dan seterusnya menjadi bermakna justru ketika angka 1 digandengkan dengan sejumlah bilangan nol yang kosong itu.

Disinilah saya ingin mengatakan bahwa posisi Ruh dalam kaitannya dengan badan dan jiwa adalah seperti angka nol pada deret bilangan. Ia berada di antara badan dan Jiwa. 'Kosong' tapi memberikan makna pada Jiwa dan badan. Kita tidak tahu apa itu Ruh, tapi justru Ruh itulah yang memberikan makna.

Ruh lah yang menyebabkan badan dan Jiwa menjadi hidup. Menjadi bermakna. Bukan hanya sebagai ‘seonggok’ materi atau segumpal energi. Badan material dan Jiwa energial menjadi hidup karena Ruh.

Tapi apakah Ruh itu? Tidak ada yang tahu. Karena ia bukan materi, sekaligus bukan energi. Ia adalah sumber dari materi dan energi. Kadang muncul sebagai materi, di lain waktu tampak sebagai energi. la adalah ‘kalimat Allah’. Ia adalah 'bagian' dari Dzat dan eksistensi Allah itu sendiri. Begitulah kata Allah.

QS. An Nisa (4) : 171
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, 'Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam, dan (lewat tiupan) Ruh dari Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

QS. At Tahrim (66) : 12
Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari Ruh Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang ta'at.

Dengan sangat tegas Allah mengatakan bahwa kalimatNya lah yang menjadi sosok 'Isa, lewat tiupan Ruh yang diberikan ke dalam rahim Maryam. Ruh itu adalah 'sebagian' dari eksistensi keilahian itu sendiri.

Sebagaimana telah kita bahas di depan, bahwa energi makna yang tersimpan dalam ‘Perintah Kun’ itulah yang kemudian menjelma menjadi materi dan energi, dalam bentuk badan dan Jiwa seorang manusia. Semua perintah penciptaan seorang manusia dilewatkan hadirnya Ruh tersebut. Hal ini lebih jelas pada firman berikut ini.

QS. Maryam (19) : 17
maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus Ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Ayat di atas menggambarkan, bahwa pada saat Allah mau menciptakan Isa di dalam tubuh Maryam, Dia 'mengutus Ruh Nya' yang menjelma dalam bentuk manusia yang sempurna.

Dalam kebanyakan tafsir dan terjemah, Ruh di sini dipersepsikan sebagai malaikat Jibril. Perlu pembahasan lain tentang kenapa malaikat Jibril disebut dan disetarakan dengan Ruh. Insya Allah saya akan membahasnya dalam diskusi tentang malaikat, di waktu mendatang.

Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa 'Ruh Nya' itu adalah 'Kalimat' yang daripadaNya bersumber dan terbentuk badan serta Jiwa manusia. Ruh itu kemudian tetap bersemayam dalam diri seorang manusia sebagai 'cetak biru' alias fitrah kehidupannya. Dari Ruh inilah energi kehidupan mengalir menghidupi badan dan Jiwa seseorang.

Karena itu keduanya bertumbuh dan hidup menuju pada kesempurnaan strukturnya. Sampai pada suatu ketika mengalami masa puncaknya, dan kemudian berangsur-angsur turun kembali menuju pada kehancuran dan kematiannya.

Akan tetapi, usia badan dan usia Jiwa memang berbeda. Sebab badan sebagai material memiliki umur yang lebih pendek dibandingkan dengan Jiwa yang bersifat energial. Karena itu ketika badan kita sudah tidak mampu bertahan lagi dan kemudian mati, Jiwa kita masih bisa bertahan sampai hari kebangkitan. Pada saat itulah Jiwa akan dikembalikan lagi ke badan.

Nah, selama perpisahannya dengan badan itu, Jiwa tidak memiliki 'alat' untuk berekspresi. Karena seluruh ekspresinya hanya bisa tersalurkan lewat badan. Rasa sakit, nikmat, sedih dan gembira hanya bisa dia rasakan ketika Jiwa bersatu dengan badan. Sebab, seluruh sistem saraf yang berkaitan dengan berbagai macam rasa itu memang ada di dalam sistem saraf badannya. Kalau sistem saraf itu tidak berfungsi, maka seluruh sistem sensoriknya juga tidak berfungsi.

Jiwa tetap hidup, tapi tidak bisa merasakan 'kehidupan' seperti di dunia nyata. Dia hanya akan bisa merasakan kehidupan dunia nyata itu jika Jiwa menempati badannya kembali. Itulah yang akan terjadi di hari kebangkitan kelak.

Allah akan mengembalikan Jiwa dan Ruhnya ke dalam badan seseorang. Barulah kemudian dia bisa merasakan balasan di Surga maupun di Neraka. Ya, kehidupan surga dan neraka akan terjadi saat Jiwa sudah bersatu kembali dengan badannya. Bukan hanya dialami oleh Jiwanya saja

Monday, October 6, 2008

Amalan sebelum Tidur

( Tafsir Haqqi )

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : "Ya Aisyah jangan engkau tidur
sebelum melakukan empat perkara, yaitu :
1. Sebelum khatam Al Qur'an,
2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
3. Sebelum para muslim meridloi kamu,
4. Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh....

"Bertanya Aisyah :
"Ya Rasulullah.... Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara
seketika?"
Rasul tersenyum dan bersabda : "Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas
tigakali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur'an.
Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Qulhualloohu ahad' Alloohushshomad' lam yalid walam yuulad' walam yakul
lahuu kufuwan ahad' ( 3 x )

Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua
akan memberi syafaat di hari kiamat.
Bismillaahirrohmaanirrohiim, Alloohumma shollii 'alaa syaidinaa
Muhammad wa'alaa aalii syaidinaa Muhammad ( 3 x )

Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.
Astaghfirulloohal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum
wa atuubu ilaih ( 3 x )

Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka
seakan-akankamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh"
Bismillaahirrohmaanirrohiim, Subhanalloohi Walhamdulillaahi walaailaaha
illalloohu alloohu akbar(3 x )

Saturday, January 20, 2007

Inilah Gerbang Islam!

Sahnya iman seseorang adalah dengan menyatakan syahadatain. Tanpa mengucapkan kalimat ini, maka amal yang dikerjakana bagaikan abu, atau fatamorgana yang terlihat tapi tidak ada. Dalam Al Qur'an Allah menyebutkannya bagaikan debu yang berterbangan, walaupun amal yang dilakukan adalah amal yang baik sekalipun, namun tidak didasari oleh syahadat.

"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (QS. Al Furqan[25]: 23)

Allah menjadikan amal mereka bagaikan debu yang berterbangan karena mereka tidak beriman. Dengan demikian jelaslah bahwa syahadatain ini menjadi pembeda manusia, mana yang muslim dan mana yang kafir.

lebih lengkap? temukan disini dan disini

Artikel ttg syahadat lainnya:
Syahadat yang diterima Allah SWT